Contoh Naskah Drama Bawang Merah Bawang Putih Singkat dan Sinopsisnya
Cerita Bawang Merah Bawang Putih merupakan cerita yang sangat dikenal di masyarakat. Berikut contohnya apabila berbentuk naskah drama.
Ada banyak sekali cerita rakyat yang kerap dijadikan sebagai inspirasi dalam membuat naskah drama.
Salah satunya saja adalah kisah Bawang Merah dan Bawang Putih.
Nah, dalam artikel ini sudah dirangkumkan informasi terkait sinopsis dan contoh naskah drama Bawang Merah dan Bawang Putih. 📖😊✨
Daftar Isi
Berikut Sinopsis dan Contoh Naskah Drama Bawang Merah Bawang Putih Singkat

Bawang Merah dan Bawang Putih merupakan salah satu cerita rakyat Indonesia yang begitu populer.
Bahkan, cerita rakyat yang satu ini sering diadaptasi ke bentuk film ataupun buku cerita.
Kisah tentang dua orang saudara tiri, yaitu Bawang Putih dan Bawang Merah ini memang telah menjadi salah satu bagian dari karya sastra lisan yang paling berumur panjang di Nusantara.
Cerita ini tidak hanya menarik dari segi alur dan tokohnya, tetapi juga sarat dengan pesan moral tentang kesabaran, kejujuran, dan kebaikan hati.
Melalui karakter Bawang Putih yang sederhana dan tulus, pembaca diajak memahami bahwa sikap baik akan selalu membawa hasil yang positif. Sementara itu, sifat iri dan serakah yang dimiliki Bawang Merah menjadi pengingat bahwa perilaku buruk pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.
Nah, pada kesempatan kali ini, sudah dirangkumkan sinopsis dan contoh naskah drama Bawang Merah dan Bawang Putih yang bisa menjadi inspirasi.
Sinopsis dan Contoh Naskah Drama Bawang Merah Bawang Putih
Alkisah, pada dahulu kala di sebuah desa yang asri, hiduplah sepasang orangtua dan seorang anak perempuannya.
Anak perempuan itu bernama Bawang Putih. Meskipun dia tidak memiliki paras yang cantik, namun Bawang Putih memiliki hati dan sikap yang sangat baik.
Bawang Putih lahir dari keluarga yang bahagia. Ayahnya adalah seorang konglomerat yang kaya raya.
Namun, suatu hari ibu Bawang Putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang Putih pun sangat berduka, begitu pula ayahnya.
Bawang Putih: “Ayah, mengapa ibu pergi meninggalkan kita begitu cepat?” (sambil memeluk ayahnya)
Ayah: “Ini memang sudah takdirnya, nak! Kamu harus tabah ya.”
Bawang Putih: “Tapi kenapa sangat cepat yah, aku sama siapa sekarang kalau sudah tidak ada ibu yah!”
Ayah: “Sudahlah anakku yang sudah biarkan sudah, kamu masih mempunyai ayah yang akan selalu menjaga kamu.” (berpelukan).
Di desa yang asri itu pula tinggalah seorang janda dengan anak gadisnya bernama Bawang Merah. Sejak ibu Bawang Putih meninggal dunia, ibu Bawang Merah pun sering berkunjung kerumah Bawang Putih.
Dia sering membawakan makanan hingga membantu Bawang Putih membereskan rumahnya. Bahkan seringkali ia datang hanya untuk menemani Bawang Putih dan ayahnya ngobrol.
Ibu Bawang Merah: “Bawang Putih, ini ada sedikit makanan ibu bawakan untuk kamu dan ayahmu ya.”
Bawang Putih: “Waduh kok repot-repot bu, Terima kasih banyak ya bu!”
Ibu Bawang Merah: “Iya, sama-sama. Jangan sungkan sama ibu kalau butuh bantuan ya. Yasudah ibu pamit pulang dulu, ya!”
Ayah: “Oh, iya bu terima kasih ya bu. Maaf sudah merepotkan, salam buat Bawang Merah ya!
Ibu Bawang Merah: “Gapapa mas, tidak perlu sungkan. Iya mas, nanti saya sampaikan salamnya untuk Bawang Merah!”
Karena merasa Bawang Putih butuh peran seorang ibu, sang ayah pun berpikir bahwa mungkin lebih baik jika ia menikah saja dengan ibu Bawang Merah.
Dengan berbagai pertimbangan dan mendapatkan persetujuan dari Bawang Putih, sang ayah pun menikah dengan ibu Bawang Merah.
Ayah: “Bawang Putih sepertinya kamu butuh peran seorang ibu. Ayah khawatir jika ayah sudah tiada, nanti siapa yang akan merawat kamu. Jika ayah menikah dengan ibu Bawang Merah, apakah kamu setuju?”
Bawang Putih: “Aku sudah begitu percaya dengan keputusan ayah, aku cuma akan mematuhinya saja. Lagi pula, ibu Bawang Merah juga sangat baik kepadaku.”
Ayah: “Baiklah, bila engkau menyetujuinya. Ayah akan memperlihatkan maksud ayah kepada ibu Bawang Merah.”
Datangnya Ibu Baru
Begitu menerima persetujuan dari sang anak, ayah Bawang Putih pun mendatangi ibu Bawang Merah dan menyatakan maksud untuk melamarnya.
Akhirnya, mereka pun menikah. Ibu Bawang Merah dan sang anak tinggal satu atap dengan Bawang Putih dan sang ayah.
Di awal pernikahan tersebut, ibu Bawang Merah tampak selalu baik hati kepada Bawang Putih. Semua pun terlihat baik-baik saja.
Hingga pada suatu hari, sang ayah harus bepergian ke luar kota dan pergi meninggalkan rumah selama beberapa hari.
Kehidupan Bawang Putih pun sontak berubah. Seolah bertolak belakang dengan sifat ketika sang ayah ada di rumah, ibu tiri dan Bawang Merah selalu bersikap pilih kasih dan lebih menyayangi Bawang Merah.
Ibu bawang merah: “Hei Bawang Putih, kerjamu jangan cuma bermalas-malasan saja. Sana bersih-bersih dan beres-beres rumah!”
Halaman:

