7 Contoh Judul Teks Negosiasi Berbagai Tema yang Menarik, Bisa Jadi Inspirasi
Negosiasi dapat berlangsung di berbagai tempat yang terdapat aktivitas manusia. Guna memudahkan saat bernegosiasi, kamu dapat membaca beberapa contoh teks negosiasi.
Contoh 2
Jual Beli Kerudung
Penjual: “Selamat siang.”
Budiman: “Selamat siang.”
Penjual: “Mau beli apa, Mas?”
Budiman: “Saya mau beli kerudung untuk Ibu saya, Mbak.”
Penjual: “Cari yang model bagaimana, Mas?”
Budiman: “Model biasa saja, Mbak. Kalau yang hijau ini berapa harganya?”
Penjual: “Rp. 50.000,-“
Budiman: “Wah, mahal juga ya Mbak, kalau Rp. 25.000,- bagaimana?”
Penjual: “Tidak bisa, Mas. Bahan bagus soalnya.”
Budiman: “Jadi tidak bisa kurang, Mbak?”
Penjual: “Rp. 40.000,- bisa, Mas.”
Budiman: “Rp. 30.000,- bagaimana, Mbak?”
Penjual: “Wah tidak bisa kurang lagi Mas.”
Budiman: “Oke deh, saya ambil kerudung hijaunya Rp. 40.000,-. Ini uangnya ya Mbak.”
Penjual: “Uangnya Rp. 50.000,- ya Mas, ini kembaliannya Rp. 10.000,-. Terima kasih banyak, Mas.”
Budiman: “Iya sama-sama, Mbak.”
Contoh 3
Terima Kasih, Bu Mia
Kamis pagi usai pelajaran olahraga, Bu Mia, guru Kimia, masuk kelas X MIPA tepat waktu. Tak seperti biasanya, hari itu anak-anak belum selesai berganti pakaian.
Penyebabnya, mereka baru saja mengikuti ujian lari mengelilingi stadion.
Sebenarnya, hari itu Bu Mia akan memberikan ulangan. Beberapa siswa yang napasnya masih memburu dan keringatnya bercucuran, mengajukan usul pada Dani.
“Dan … minta Bu Mia menunda ulangan, dong. Capek, nih,” kata Ali.
“Waduh, aku gak berani,” jawab Dani “Lia saja suruh bilang. Dia kan ketua kelas, ” sambung Dani.
“Baiklah, aku akan mencoba merayu Bu Mia. Doakan berhasil,” kata Lia.
“Beres. Kamu kan ketua kelas.”
Dengan santun, Lia menghadap Bu Lia yang wajahnya tampak kaku melihat murid-muridnya belum juga siap mengikuti pelajaran.
“Maaf, Bu. Boleh Lia berbicara sebentar?” tanya Lia sambil duduk.
“Iya. Ada apa?”
“Begini, Bu, saya mewakili teman-teman ingin meminta maaf karena teman-teman belum selesai ganti baju. “
“Biasanya kan tidak terlambat seperti ini?” tanya Bu Mia.
“Iya, Bu. Sekali lagi maafkan kami. Kami kelelahan, Bu. Tadi baru saja ujian lari mengelilingi stadion dua kali.”
“Oh, kenapa tidak bilang tadi? Kalian sudah minum?” Suara Bu Mia berubah ramah setelah tahu penyebab Lia dan kawan-kawannya terlambat ganti baju.
“Belum sempat, Bu. Kami takut ketinggalan ulangan,” jawab Lia tetap dengan sopan. “Kalau boleh, kami minta waktu sepuluh menit untuk minum dan ganti baju, Bu. Biar badan kami segar.”
“Ya, sudah. Kalian istirahat 15 menit. Ulangannya minggu depan saja. Nanti kita latihan soal saja,” jawab Bu Lia, mengagetkan Mia dan teman-teman.
“Makasih, Bu,” kata Lia.
“Eit … tapi ingat. Kalian harus tertib. Tidak boleh gaduh dan mengganggu kelas lain dan masuk kelas lagi tepat pukul 09.00 WIB.”
“Iya, Bu. Makasih.”
Teman-teman Lia yang sejak tadi ikut menyimak pembicaraan Lia dan Bu Mia bertepuk tangan gembira mendengar keputusan Bu Mia.
Contoh 4
Handphone Baru
Perihal handphone barunya itu, sesungguhnya sudah lama Rani menginginkannya. Beberapa kali Ia membujuk ayahnya agar dibelikan handphone.
Gagal meminta langsung pada ayahnya, Rani pun minta bantuan ibunya. Namun, tetap saja usaha Rani gagal.
Minggu lalu, Rani benar-benar berusaha meyakinkan ayahnya betapa Ia sangat membutuhkan HP.
“Yah, Rani benar-benar perlu handphone. Belikan, ya, Yah?” tanya Rani pada ayahnya.
“Ayah belum punya cukup uang untuk membeli handphone, Ran. Lagipula ‘kan sudah ada telepon rumah,” kata ayah sambil meletakkan koran ke atas meja.
“Tapi, Yah … semua teman Rani punya handphone. Mereka dapat dengan mudah menelepon orang tuanya saat terpaksa pulang telat.”
“Lah, kalau begitu kamu jangan pulang telat,” kata Ayah lagi.
Rani hampir saja menangis.
“Tak hanya itu, Yah… Rani iri sama teman-teman Rani yang dapat dengan mudah mengunduh materi pembelajaran, mengirim tugas, bahkan berdiskusi untuk mengerjakan tugas-tugas tanpa harus keluar rumah,” kata Rani dengan kalimat yang runtut dan jelas.
Kalimat yang sudah beberapa hari Ia rancang untuk merayu ayahnya.
Mendengar penjelasan Rani, Ayah melepas kacamatanya dan menatap Rani dengan lembut.
“Sebegitu pentingkah handphone itu bagimu, Nak?”
Rani hampir saja melonjak kegirangan mendengar reaksi ayahnya.
“Iya, Yah. Apalagi guru-guru sering menugaskan kami untuk mengirim tugas ke grup Facebook atau mengunggah tugas di blog.
Kalau Rani punya handphone kan enak, bisa buat diskusi bareng teman-teman sekaligus dapat mengakses internet melalui handphone.”
“Hm … Ayah akan membelikan handphone untuk Rani, asal ., ” Ayah seakan sengaja menggoda Rani.
“Asal apa, Yah?” tanya Rani tak sabar.
“Asal Rani rajin belajar dan berjanji akan menggunakan handphone itu untuk hal-hal yang positif.”
“Rani janji, Yah. Makasih, ya, Ayah,” janji Rani sambil memeluk ayahnya.
Halaman:

