5 Contoh Teks Negosiasi Rencana Pembangunan Cafe dan Fasilitas Umum
Contoh teks negosiasi rencana pembangunan dapat dikatakan sebagai negosiasi formal, tetapi tidak membutuhkan surat atau berinteraksi secara tertulis, melainkan lisan.
Meskipun negosiasi adalah hal yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Tapi, bukan berarti negosiasi itu mudah, apalagi berbicara tentang contoh teks negosiasi rencana pembangunan.
Dalam bernegosiasi, kedua belah pihak harus dipastikan mendapatkan keuntungan. Selain itu, kesepakatan yang didapatkan pun harus disetujui oleh kedua belah pihak.
Karenanya, negosiasi bukan hal yang mudah, sehingga mempelajarinya dalam bentuk teks juga diperlukan. Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini! 📖✨
Daftar Isi
Contoh Teks Negosiasi Rencana Pembangunan

Contoh 1
Berikut ini adalah contoh teks negosiasi tentang rencana pembangunan cafe.
Ketua RT: “Assalamualaikum.”
Warga: “Waalaikumsalam.”
Ketua RT: “Selamat sore, Bapak-Bapak. Perkenalkan, orang di sebelah saya adalah Pak Muhidin, orang yang bertanggung jawab dalam pembangunan cafe.”
Pak Muhidin: “Jadi, begini, Bapak-Bapak. Saya datang ke sini untuk meluruskan apa yang menjadi permasalahan di antara kita. Memang benar, saya akan membangun cafe di tanah yang dimaksud. Tapi saya tidak ada niat untuk mengganggu aktivitas beribadah di masjid. Saya hanya ingin menciptakan mitra kerja saja.”
Warga: “Bagaimana bisa seperti itu? Sudah jelas Bapak lihat bahwa di samping tanah itu adalah masjid. Mustahil kalau kegiatan cafe tidak akan mengganggu ibadah!”
Ketua RT: “Sabar dulu, Pak. Kita harus mendengarkan penjelasan lebih lanjut dulu.”
Warga: “Saya tidak setuju jika cafe itu benar-benar dibangun di tanah itu.”
Pak Muhidin: “Jadi begini, Bapak-Bapak. Saya mengerti apa yang Anda sekalian khawatirkan. Tapi saya adalah seorang pengusaha. Saya tidak akan melepaskan kesempatan yang ada karena wilayah pembangunan memang strategis.”
Warga: “Lalu, bagaimana dengan kegiatan ibadah nanti?”
Ketua RT: “Saya juga sebenarnya kurang setuju tentang rencana pembangunan ini, Pak.”
Pak Muhidin: “Saya sudah memikirkan dampak-dampak itu dengan matang. Nanti saya akan menggunakan material bangunan yang bersifat kedap suara. Jadi, ketika ada ibadah, saya dapat memberhentikan semua kegiatan di cafe untuk sementara waktu. Tidak perlu khawatir juga tentang lahan parkirnya, karena tempat itu sudah direncanakan dan diposisikan di sebelah kanan cafe. Lahan itu pun nanti bisa dipakai oleh jamaah yang akan beribadah di masjid di sebelahnya.”
Ketua RT: “Bagaimana penjelasannya, Bapak-Bapak?”
Warga: “Kalau memang seperti itu, saya tidak masalah lagi. Harapannya, Pak Muhidin juga bisa memegang janji itu. Kami tidak akan ragu melakukan demo kalau apa yang Bapak laksanakan nanti berbeda dengan janji Bapak.”
Pak Muhidin: “Saya pun berharap seperti itu.”
Ketua RT: “Sepertinya diskusi sudah berakhir sampai sini. Terima kasih atas kerja sama kita semua.”
Contoh 2
Berikut ini adalah contoh teks negosiasi rencana pembangunan cafe di sebelah masjid.
Lurah: “Rumor tentang pembangunan cafe di sebelah masjid di kampung ternyata meresahkan warga. Tapi bukannya keberadaan cafe akan lebih menghidupkan kampung kita, Pak?”
Warga I: “Benar, Pak, kampung akan lebih hidup. Tapi apa ada alasan kenapa harus dibangun di sebelah masjid? Seperti yang kita tahu, cafe sangat berisiko dengan hal-hal maksiat.”
Warga II: “Benar, Pak. Bukan cuma suara dari cafe saja, pemuda-pemudi di kampung juga ditakutkan menjadi malas beribadah. Mereka akan lebih lama nongkrong di cafe daripada beribadah ke masjid.”
Lurah: “Pendapat itu memang benar. Tapi alangkah lebih baiknya kalau kita dengarkan dulu alasan dari pemilik tanah sebelum kita sepakat.”
Pemilik tanah: “Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian yang saya hormati. Sebelumnya, saya minta maaf atas keributan dan keresahan yang terjadi di warga kampung. Saya memang berencana membangun cafe di sebelah masjid yang dimaksud. Karena itulah, saya harus meminta izin dari warga dulu sebelum memulai pembangunanya. Tapi, cafe yang akan dibangun bukan seperti cafe yang dipikirkan oleh para Bapak dan Ibu. Cafe ini saya bangun secara khusus agar tidak menimbulkan polusi udara, serta menjadi tempat yang memunculkan keresahan.”
Warga III: “Sepertinya tidak ada cafe yang seperti itu selama ini!”
Lurah: “Sabar. Mari kita dengarkan penjelasan lebih lanjutnya. Bisa Bapak jelaskan lagi dengan lebih detail?”
Pemilik tanah: “Terima kasih, Pak Lurah. Cafe ini juga saya rancang untuk menyajikan makanan dan minuman sehat yang halal saja. Jadi, saya juga berjanji cafe tidak akan mengeluarkan polusi udara, khususnya saat ibadah sedang berlangsung. Saya juga akan mengapresiasi warga yang berbuka puasa dengan menyediakan makanan gratis. Ada juga makanan dan minuman gratis untuk warga dan jemaah yang salat Jumat.”
Warga IV: “Tapi, bagaimana dengan pemuda yang akan nongkrong di cafe sampai lupa kapan waktunya beribadah?”
Pemilik tanah: “Tentu pihak kami dan cafe akan mengingatkan mereka. Saya pun akan membuat batasan jam buka dan tutup, sehingga tidak ada pemuda yang nongkrong sampai larut malam.”
Lurah: “Bagaimana, Bapak dan Ibu? Kedengarannya tawaran ini menarik. Jadi, suasana kampung tidak cuma diperbaharui, tapi juga membantu para ibu yang tidak sempat memasak.”
Ketua RW: “Bisakah kita membuat kesepakatan tertulis perihal peraturan di kampung ini bersama dengan operasional cafe? Jadi, jika ada sesuatu masalah dan masalah itu meresahkan warga, kita dapat saling mengingatkan di kemudian hari.”
Pemilik tanah: “Oh, tentu saja saya setuju, Pak. Saya akan berusaha dengan maksimal supaya masjid yang menjadi tempat beribadah tidak terganggu dengan kegiatan di cafe saya. Jadi, saya pun tidak akan merugikan warga kampung. Warga pun tidak mengganggu cafe saya.”
Lurah: “Nah, ada lagi yang ingin memberi sanggahan?” (Tidak ada yang membuka suara) “Baiklah. Nampaknya warga pun sudah setuju dengan pembangunan cafe ini. Dengan catatan, Bapak juga ikut menandatangani kesepakatan tertulis yang kita buat bersama.”
Pemilik tanah: “Siap, Pak. Terima kasih sebelumnya atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menjelaskan tentang pembangunan cafe ini.”
Lurah: “Sama-sama. Semoga kita semua bisa berkoordinasi dengan baik.”
Halaman:



