5 Contoh Teks Negosiasi Rencana Pembangunan Cafe dan Fasilitas Umum
Contoh teks negosiasi rencana pembangunan dapat dikatakan sebagai negosiasi formal, tetapi tidak membutuhkan surat atau berinteraksi secara tertulis, melainkan lisan.
Contoh 3
Berikut ini adalah contoh teks negosiasi rencana pembangunan fasilitas umum shelter bus.
Ketua RT: “Selamat pagi, Pak.”
Camat: “Ya, selamat pagi. Jadi, kita akan membicarakan apa, ya, Pak?”
Ketua RT: “Begini, Pak. Warga sering mengeluh setiap menunggu bus karena tidak ada halte yang mempunyai atap pelindung. Jadi, kalau hujan, mereka harus berbasah-basahan, apalagi jika hujannya tidak terduga dan mereka tidak membawa payung. Saya ingin mengusulkan untuk membangun shelter bus di semua titik penjemputan di kecamatan kita ini.”
Camat: “Bagaimana kalau menghimbau warga untuk selalu membawa payung walaupun saat mereka pergi cuaca sedang cerah?”
Ketua RT: “Bisa saja, Pak. Tapi dengan adanya shelter bus, pengemudi ojek online pun sebenarnya terbantu untuk berteduh. Kalau mereka tetap memakai payung, mereka harus membawa payung yang basah ke dalam bus. Itu mungkin akan membuat bagian dalam bus menjadi kotor dan becek.”
Camat: “Saya setuju, tapi sayangnya dana kita tidak cukup untuk rencana ini. Sudah akhir tahun, dan semua anggaran sudah terpakai untuk dan dialokasikan untuk kepentingan lain.”
Ketua RT: “Apakah benar-benar sudah tidak ada lagi, Pak?”
Camat: “Solusinya mungkin kita bisa mengajukan rencana pembangunan ini kepada Wali Kota. Siapa tahu pembangunan shelter bus tidak cuma diadakan di kecamatan saja, tapi juga seluruh kota. Nanti saya akan membuat surat pengajuannya.”
Ketua RT: “Wah, terima kasih, Pak. Jadi tidak hanya warga kecamatan saja yang merasa dipedulikan oleh wali kota, tetapi juga seluruh warga kotanya.”
Camat: “Benar sekali. Terima kasih atas usulannya, Pak.”
Ketua RT: “Baik, Pak. Terima kasih juga atas waktunya untuk membicarakan hal ini.”
Contoh 4
Berikut ini adalah contoh teks negosiasi rencana pembangunan taman bermain anak.
Ketua RW: “Selamat sore, Bapak dan Ibu sekalian.”
Warga: “Selamat sore.”
Ketua RW: “Hari ini kita berkumpul untuk membahas rencana pembangunan taman bermain anak di lahan kosong dekat lapangan.”
Warga I: “Taman bermain memang bagus, Pak. Tapi bagaimana dengan dana pembangunannya?”
Ketua RW: “Dana awal memang terbatas. Namun, kami sudah berencana mengajukan bantuan ke kelurahan dan melakukan swadaya warga.”
Warga II: “Kalau swadaya, apakah tidak memberatkan warga, Pak?”
Ketua RW: “Iurannya bersifat sukarela, Pak. Selain itu, taman ini nantinya bisa menjadi fasilitas umum yang bermanfaat untuk anak-anak kita.”
Warga III: “Saya setuju, Pak. Anak-anak selama ini bermain di jalan, itu cukup berbahaya.”
Warga I: “Kalau begitu, bagaimana dengan perawatannya nanti?”
Ketua RW: “Perawatan akan dilakukan secara bergiliran oleh warga dan karang taruna. Kita juga bisa membuat jadwal piket.”
Warga II: “Kalau begitu, saya setuju dengan rencana pembangunan taman bermain ini.”
Ketua RW: “Baik. Jika tidak ada keberatan lagi, maka rencana pembangunan taman bermain anak akan kita lanjutkan.”
Warga: “Setuju, Pak.”
Ketua RW: “Terima kasih atas kerja sama dan kesepakatan dari Bapak dan Ibu sekalian.”
Contoh 5
Berikut ini adalah contoh teks negosiasi rencana pembangunan tempat pembuangan sampah sementara (TPS).
Lurah: “Selamat pagi, Bapak dan Ibu.”
Warga: “Selamat pagi, Pak Lurah.”
Lurah: “Saya mengundang Bapak dan Ibu untuk membahas rencana pembangunan TPS di wilayah kita.”
Warga I: “Maaf, Pak. Kalau TPS dibangun di sini, apakah tidak menimbulkan bau dan penyakit?”
Lurah: “Kekhawatiran itu wajar. Namun, TPS yang akan dibangun menggunakan sistem tertutup dan rutin diangkut setiap hari.”
Warga II: “Kenapa harus di wilayah ini, Pak?”
Lurah: “Lokasi ini dipilih karena strategis dan mudah dijangkau oleh mobil pengangkut sampah.”
Warga III: “Kalau begitu, apakah warga sekitar mendapatkan dampak positif?”
Lurah: “Tentu. Lingkungan menjadi lebih bersih, sampah tidak berserakan, dan warga bisa lebih disiplin membuang sampah.”
Warga I: “Bagaimana jika nantinya pengangkutan sampah tidak rutin?”
Lurah: “Kami siap membuat perjanjian tertulis agar pengangkutan dilakukan sesuai jadwal.”
Warga II: “Kalau ada perjanjian tertulis, saya setuju, Pak.”
Warga III: “Saya juga setuju.”
Lurah: “Baik. Dengan kesepakatan bersama, rencana pembangunan TPS ini akan segera kami tindak lanjuti.”
Warga: “Setuju, Pak.”
Melalui contoh teks negosiasi rencana pembangunan cafe dan fasilitas umum di atas, dapat dilihat bahwa ada keterlibatan warga di dalamnya.
Selain itu, pihak yang bernegosiasi tidak cuma dua, bisa jadi tiga bahkan lebih. Yang pasti, semuanya harus berakhir pada kesepakatan tertentu.
Halaman:

