3 Contoh Naskah Drama Pendek Mengandung Pesan Moral beserta Unsur-unsurnya
Naskah sebuah drama menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam sebuah pementasan, baik pementasan di lingkup kecil maupun untuk acara tertentu.
Dalam membuat sebuah pementasan drama, naskah menjadi hal krusial yang perlu disusun dan dibuat.
Karena naskah akan menjadi semacam petunjuk utama yang perlu disusun secara runut mulai dari awal hingga akhir.
Para pemeran ata pelakon yang bermain dalam drama tersebut akan jauh lebih memahami ke mana arah drama tersebut apabila ada naskah. ππ
Daftar Isi
Rangkaian Contoh Naskah Drama Pendek Pesan Moral beserta Unsurnya

Meski terlihat mudah, nyatanya dalam membuat sebuah naskah drama perlu diperhatikan beberapa hal.
Beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam membuat naskah drama pendek tersebut akan Mamikos coba bahas dengan saksama dalam artikel kali ini.
Jika sudah mengetahui apa saja unsur untuk menyusun naskah drama tersebut, maka kamu bisa langsung membuat naskah drama singkat yang mengandung pesan moral untuk berbagai kebutuhan kegiatan atau acara di sekolah.
Langsung saja simak beberapa unsur pembuatan naskah sekaligus contoh naskah drama pendek mengandung pesan moral tersebut di sini.
Unsur yang Harus Ada dalam Naskah Drama
Sebuah drama, baru bisa dikatakan baik jika memenuhi beberapa dan unsur-unsur drama.
Masalahnya masih banyak yang tidak memperhatikan hal tersebut dan hanya membuat saja tanpa melihat lagi unsur dan syarat tersebut.
Nah, biar kamu tidak keliru lagi, maka kamu bisa menyimak unsur dan syarat dalam drama tersebut berikut ini.
- Harus memiliki tema, yakni sebuah ide pokok atau gagasan tertentu yang digunakan dalam drama.
- Mempunyai alur, yakni jalan cerita drama dari awal hingga drama selesai. Baik itu adalah alur maju, alur mundur, maupun alur drama campuran.
- Terdapat tokoh yang terdiri dari tokoh utama (bisa protagonis maupun antagonis) dan tokoh-tokoh pendukung.
- Watak/perilaku yang diperankan oleh para tokoh/karakter dalam drama. Watak harus terdiri dari 2 jenis yakni protagonis dan antagonis. Bisa juga ada tokoh yang netral.
- Latar merupakan gambaran tempat, waktu, hingga kondisi yang terjadi atau sedang berlangsung dalam kisah drama yang dipentaskan tersebut.
- Amanat/moral adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dan penulis naskah kepada penonton yang menyaksikannya.
Karakteristik dan Ciri Teks Drama
Selain unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam drama, sebuah drama juga biasanya akan memiliki sebuah karakteristik atau ciri tertentu.
Beberapa ciri dan karakteristik dalam teks drama tersebut di antaranya adalah:
- Cerita dalam drama harus memiliki bentuk dialog dan narasi, baik untuk para tokoh maupun narator (yang membacakan narasi). Semua ucapan para tokoh akan dituliskan dalam bentuk teks.
- Obrolan yang tertulis dalam drama tidak perlu menggunakan tanda petik (β/β), karena bukan bagian dari kalimat langsung.
- Naskah drama para tokoh maupun pemeran perlu diberikan semacam petunjuk. Petunjuk tersebut biasanya ditulis dalam tanda kurung () atau bisa juga memakai format huruf yang berbeda dari yang lainnya.
- Naskah petunjuk dalam drama akan tertulis di atas atau di samping dialog tokohnya.
Contoh Naskah Drama Pendek Pesan Moral

Untuk kamu yang sudah penasaran dengan bagaimana contoh naskah drama pendek mengandung pesan moral versi Mamikos, maka kamu bisa mengecek langsung ulasan lengkapnya di sini.
1. Contoh Naskah Drama Pendek: Berempati Terhadap Sesama
- Tema: Kemanusiaan
- Tokoh/Karakter: Lulu, Didan, Haris, Ulfa
- Bisa memakai lebih banyak karakter pendukung untuk membangun suasana kelas.
- Latar: Sekolah (kelas)
Di sebuah kelas Sekolah Menengah Pertama Negeri, empat orang siswa dan siswi sedang memperbincangkan rencana menengok salah satu teman kelas mereka, Tina, yang tertimpa musibah.
Awalnya diskusi berjalan lancar. Hanya saja setelah menyinggung perihal membawa buah tangan, terjadi sedikit perdebatan.
Didan: Mungkin buah tangan yang kita bawa untuk Tina nanti jangan terlalu mahal. Karena dia bisa kecelakaan pun karena ulahnya sendiri.
Didan berbicara dengan nada tak bersimpati. Wajahnya masam dan tak bersemangat.
Ulfa pun menanggapi.
Ulfa: Kenapa kamu bicara seperti itu, Didan? Okelah kalau soal perihal buah tangan yang dibawa kita masih bisa mendiskusikannya. Tapi soal mengomentari musibah yang menimpa Tina, saya rasa kamu berlebihan deh.
Haris dan Lulu menganggukkan kepalanya, bersepakat dengan apa yang barusan diucapkan oleh Ulfa.
Haris: Apa yang dikatakan oleh Ulfa itu benar, Didan. Saat orang tertimpa musibah, dia sedang dalam kondisi tidak baik. Masak kamu sampai hati berbicara tidak pantas seperti itu dengan teman sendiri?
Didan, mengangkat kedua bahunya lalu menyambung lagi kalimatnya.
Didan: Ya, habis bagaimana? Kan memang dia sendiri yang bergaya dan pamer tentang kemampuannya memanjat tebing. Lalu ketika dia jatuh karena terlalu percaya diri, kita juga yang repot harus menjenguk, harus urunan uang santunan dan lainnya.
Lulu menggelengkan kepalanya saat mendengar Didan bicara seperti itu.
Lulu: Kamu langsung jatuh miskin kah, Dan, kalau menyumbang seribu rupiah untuk menengok Tina nanti agar kita bisa sekadar membeli buah atau roti?
Sebelum Didan menyambung dan bicara, Lulu segera melanjutkan kalimatnya.
Lulu: Seribu rupiah itu sama sekali tidak sebanding dengan luka dan duka yang saat ini dialami Tina dan keluarganya. Mereka pasti sedih dengan musibah ini. Tapi akan jadi jauh lebih sedih lagi jika sampai mendengar kamu bicara seperti tadi.
Haris menyambar kalimat sebelum Didan membela diri dan menjatuhkan orang lain lagi.
Haris: Coba kamu bayangkan jika apa yang menimpa Tina itu justru menimpa kamu. Lalu orang-orang berpikiran hal yang sama persis seperti yang kamu ucapkan tadi tentang Tina. Apa kamu yakin tidak sedih dan terluka?
Didan mulai terdiam.
Ulfa: Kamu tidak boleh seperti itu Dan. Karena bagaimana pun, kamu pasti merasa tidak nyaman jika ada orang yang berkata buruk tentang kamu. Makanya cobalah berempati dengan musibah orang lain.
Didan terlihat mulai memahami apa yang dimaksud oleh teman-temannya tersebut. Akhirnya ia pun meminta maaf.
Didan: Iya, sorry ya teman-teman. Seharusnya saya nggak bicara seperti itu tadi. Baiklah, jadi kita mau membeli apa untuk menjenguk Tina nanti?
Diskusi pun kembali berlangsung dan jauh lebih adem daripada tadi.
Halaman:



