5 Contoh Pola Penyajian Teks Negosiasi Berbentuk Cerita Pendek dan Cara Membuatnya
Contoh pola penyajian teks negosiasi berbentuk cerita pendek biasanya dicari oleh peserta didik yang mendapatkan tugas dari guru mereka. Inilah beberapa contohnya.
2. Contoh Pola Penyajian Teks Negosiasi Susu Kedelai atau Green Tea Latte
Anto dan Awan adalah saudara kembar yang sangat suka mencoba minuman-minuman baru, mulai dari susu, teh, kopi, dan minuman lainnya.
Tidak hanya minuman baru, segala macam minuman yang manis pasti mereka suka.Â
Suatu hari, mereka berdua datang ke sebuah tempat wisata untuk menghabiskan waktu libur sekolah.
Setelah capek berjalan-jalan mengelilingi tempat wisata, mereka akhirnya berhenti di cafetaria yang disediakan oleh pihak pengelola wisata.
Anto dan Awan memiliki kebiasaan unik, yakni memesan menu minuman yang sama, sehingga harus bernegosiasi terlebih dahulu sebelum memutuskan membeli menu minuman apa.Â
“Minumannya banyak ya, Wan! Bingung mau pilih yang mana.” Ucap Anto sambil membaca daftar menu yang ada di tangannya.Â
“Iya, nih! Tapi kebanyakan minuman bersoda yang nggak cocok di lidahku, To.” Kata Awan.
“Kita pesan yang mana, nih?” Tanya Anto.Â
“Bagaimana kalau susu kedelai saja? Kata orang-orang susu kedelai di sini rasanya beda.”
“Bedanya bagaimana? Bukannya susu kedelai rasanya gitu-gitu saja?”
“Ya nggak tahu kalau belum dicoba!”
“Nggak ah! Aku nggak mau susu kedelai, yang lain saja!” Anto tidak setuju dengan pilihan yang diberikan oleh Awan.Â
Karena belum mendapatkan pilihan menu yang sesuai keinginan, Anto dan Awan pun melanjutkan pencarian menu yang pas untuk mereka berdua.Â
“Wan, kayaknya green tea latte enak, nih!” Anto berhasil menemukan menu minuman yang menarik perhatiannya, lalu mengutarakannya kepada Awan.
“Kan kemarin sudah beli di O’drink, To. Masa hari ini itu lagi, sih!” Sepertinya Awan tidak setuju juga dengan pilihan Anto.Â
“Dari gambarnya kayaknya beda lho, Wan! Lihat ini!” Anto menunjukkan gambar menu green tea latte yang ingin ia pesan. “Kalau di O’drink kan nggak pakai topping seperti ini. Memang rasa green tea latte di O’drink super enak, tapi coba yang ada topping lah di sini!”
“Nggak ah! Susu kedelai saja!” Awan tetap tidak setuju.Â
“Begini Wan. Kalau susu kedelai kan kita setiap hari Jum’at bisa beli di Mbak Wati yang lewat itu.”Â
“Green tea latte juga bisa pesan di O’drink.” Potong Awan.
“Iya juga, sih. Tapi ini ada topping, lho!”
“Begini saja kalau begitu. Bagaimana kalau kita suit dan yang menang bisa pilih menu, yang kalah ikut si pemenang?” Saran dari Awan.Â
“Oke kalau begitu!”
Akhirnya mereka berdua pun suit untuk menentukan menu pilihan siapa yang akan dipesan di cafetaria.
Setelah melakukan suit tiga kali, Awan mendapatkan poin 2 dan Anto mendapatkan poin 1, sehingga pemenangnya adalah Awan.Â
“Yes! Jadi, pesan susu kedelai, ya?!” Sorak Awan setelah berhasil memenangkan suit.Â
“Hmm, oke deh!” Meskipun kurang setuju dengan pilihan Awan, Anto tetap suportif sehingga mengikuti pesanan Awan.Â
Awan pun memanggil pelayan yang ada di cafetaria untuk memesan makanan dan minuman sesuai keinginan mereka berdua.Â
3. Contoh Pola Penyajian Teks Negosiasi Telat Mengumpulkan Tugas
Hari Rabu kelas Rita akan belajar bersama Pak Dedi, guru Biologi. Rita lupa kalau ada tugas yang harus dikerjakan dan pengumpulan terakhir adalah hari Rabu ini.
Pagi-pagi sekali Rita berangkat ke sekolah dengan harapan masih ada waktu untuk mengerjakan tugas tersebut, sehingga bisa langsung dikumpulkan pada hari itu juga.Â
Namun, ternyata harapan Rita tidak seperti kenyataannya. Ia terjebak macet berkepanjangan karena ada kecelakaan beruntun.
Rita ketar-ketir karena Pak Dedi terkenal sebagai guru killer yang mudah marah, apa lagi kalau muridnya tidak mengumpulkan tugas tepat waktu. Meskipun begitu, Rita tetap memantapkan niat untuk pergi ke sekolah dan menghadapi Pak Dedi.Â
Benar saja, sesampainya di sekolah jam sudah menunjukkan pukul 07.00 dan bel tanda masuk kelas berbunyi tepat setelah Rita memasuki gerbang utama.
Ia pun berlari menuju kelas agar tidak keduluan Pak Dedi. Hitung-hitung meskipun tidak mengumpulkan tugas tepat waktu, ia tidak terlambat masuk ke kelas.Â
Beberapa saat kemudian Pak Dedi masuk ke dalam kelas dan membuka pelajaran seperti biasa.
Setelah pembukaan, Pak Dedi langsung menanyakan tugas kepada seluruh siswa yang ada di kelas dan menyuruh mereka untuk mengumpulkannya di meja depan.Â
Pak Dedi: “Silahkan kumpulkan tugas kalian semua di depan kelas. Saya akan cek sekarang juga!”
Satu Kelas: “Baik, Pak!”
Sebelum Pak Dedi mengetahui bahwa Rita tidak mengumpulkan tugas, ia segera berjalan ke meja Pak Dedi untuk mengakui kesalahannya dan meminta keringanan.Â
Rita: “Maaf Pak Dedi. Saya belum bisa mengumpulkan tugas. Saya lupa kalau ada tugas dari bapak dan harus dikumpulkan hari ini juga.”
Pak Dedi: “Lupa? Memangnya apa yang kamu ingat Rita?”
Rita: “Sekali lagi saya minta maaf, Pak!”
Pak Dedi: “Saya tidak suka ada murid saya yang tidak mengumpulkan tugas tepat pada waktunya!”
Rita: “Maaf, Pak! Saya janji akan mengumpulkannya besok di ruang guru.”Â
Pak Dedi: “Memangnya saya mau menerima tugas itu?”
Rita terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari Pak Dedi. Ia hanya pasrah mau mendapatkan keringanan atau hukuman, karena memang ini kesalahannya.
Rita hanya tertunduk dan menunggu apa yang dikatakan Pak Dedi selanjutnya.Â
Pak Dedi: “Tentu saja kamu harus mendapat hukuman!”
Rita: “Baik, Pak. Saya akan menerima hukuman dari Pak Dedi.”
Pak Dedi: “Kamu mau dihukum seperti apa?”
Rita: “Maaf, Pak. Saya tidak tahu.”
Pak Dedi: “Lari keliling lapangan 5 kali atau dijemur di lapangan?”
Rita: “Jangan, Pak! Saya tidak betah panas, bisa-bisa saya pingsan.”
Pak Dedi: “Ya itu konsekuensi yang harus kamu tanggung karena tidak mengumpulkan tugas tepat waktu.”
Rita: “Maaf, Pak! Apakah hukumannya boleh diganti?”
Pak Dedi: “Salin saja tugas kamu sebanyak 20 kali!”
Rita: “Astaga! Pak, tugasnya ada 5 lembar dan itu bolak-balik. Berarti saya harus mengerjakan 100 halaman.”
Pak Dedi: “Iya.”
Rita: “Waktunya berapa lama, Pak?”
Pak Dedi: “Tiga hari! Sabtu silahkan kumpulkan di meja saya di ruang guru.”
Rita: “Selain itu apa tidak ada hukuman lain, Pak?”
Pak Dedi: “Tidak!”
Rita: “Baik, Pak. Saya akan jalankan hukuman dari Pak Dedi.”
Pak Dedi: “Lain kali jangan terlambat, ya!”
Rita: “Baik, Pak.”
Setelah itu, Rita kembali ke tempat duduknya dengan tampang yang lesu. Beberapa teman yang ia lewati tempat duduknya pun memberikan semangat kepadanya.
Ya, bagaimanapun juga ini adalah kesalahan dan kecerobohan Rita, sehingga ia harus menerima konsekuensinya.Â
Halaman:

