Contoh Prolog Novel Kehidupan, Sejarah Pribadi, dan Cinta yang Menarik
Prolog sering digunakan sebagai eksposisi. Prolog menjelaskan cerita dengan memberi pembaca beberapa informasi latar belakang, atau tentang apa yang terjadi dalam cerita. Simak beberapa contohnya di sini.
Setelah menengok masa lalu terkait hubungan dengan Jepang yang buruk, semakin meyakinkan bahwa para perawan remaja dari Jawa tersebut mendapat perlakuan buruk hingga hari akhir kekuasaan Jepang di Indonesia.
Pada tahun 1945, Jepang kalah dalam Perang Dunia II dan membuat Jepang lepas tangan tanpa tanggung jawab membiarkan para perawan remaja begitu saja.
Para perawan remaja tidak bisa pulang ke kampung halamannya dan tidak mendapatkan pelayanan, serta perlindungan hukum layaknya orang buangan.
Tak hanya wanita Indonesia saja yang dijadikan budak seks serdadu Jepang, diperkirakan ada 20.000 wanita di negara-negara Asia lainnya juga seperti Korea Selatan dan Filipina.
Ironisnya, hingga kini pemerintahan Jepang tetap menolak untuk bertanggung jawab secara hukum.
Mereka berdalih dengan alasan para korban adalah jugun ianfu (perempuan penghibur) yang bekerja secara sukarela bukan karena budak seks.
Lantas, berapa persen dari sekian para perawan remaja itu yang dapat berhasil kembali ke pangkuan keluarga? Hingga kini tidak ada yang bisa memastikannya.
Hal menarik yang menjadi keunggulan dari buku ini adalah terdapat banyak bukti akurat berupa adanya wawancara secara langsung oleh salah satu para perawan remaja maupun keluarga korban. Sehingga, isi buku ini benar-benar sesuai fakta tanpa dibuat secara khayalan.
Cerita yang terdapat pada buku ini menggambarkan perjuangan yang begitu besar oleh para perawan remaja pada zaman penjajahan Jepang. Mereka hidup dengan penuh penderitaan, ketakutan, dan terbelenggu oleh kejamnya pemerintahan Jepang.
Contoh Prolog Novel Sejarah Pribadi

Judul Novel: Laut Bercerita
Karya: Leila S. Chudori
“Matilah engkau mati
Kau akan lahir berkali-kali….”
Ada seorang penyair yang pernah menuliskan sebait puisi ini di atas secarik kertas lusuh. Kala itu, dia masih berambut panjang menggapai pundak dan bersuara parau karena banyak berorasi di hadapan buruh.
Ia menyelipkan secarik kertas lusuh itu ke dalam sebuah buku tulis bersampul hitam dan mengatakan itulah hadiah darinya untuk ulang tahunku yang ke25.
Sembari mengepulkan asap rokoknya yang menggelunggelung ke udara, dia mengatakan bahwa aku harus selalu bangkit, walau aku mati.

