Advertisement
Source : unsplash.com/rumandraisin

Contoh Prolog Novel Kehidupan, Sejarah Pribadi, dan Cinta yang Menarik

Prolog sering digunakan sebagai eksposisi. Prolog menjelaskan cerita dengan memberi pembaca beberapa informasi latar belakang, atau tentang apa yang terjadi dalam cerita. Simak beberapa contohnya di sini.

20 Februari 2023 Bella Carla

Dengan pandanganku yang masih buram karena terlalu lama menatap gelap, aku baru sadar bahwa kamu sedang berdiri di atas bukit karang di tubir pantai. Ternyata, matahari belum sepenuhnya turun. Lantas, pukul berapa kah kini? Apakah sudah senja?

Pulau ini tampak kosong dan sunyi. Kulihat serombongan burung belibis yang terbang rendah, mendekati dan mengusap permukaan laut. Kini aku mahfum. Mereka telah membawaku ke tepi pantai, ke tepi kematian.

Contoh Resensi Novel Mariposa beserta Strukturnya yang Baik dan Benar

Kematian yang Mendekat

Kini mereka mengikat tanganku dengan besi pemberat di sebelah kiri kemudian kanan. Sesekali aku menggeliat berusaha mencari celah, meskipun kemungkinan aku berakhir sia-sia.

Aku tidak mau memberikan tangan dan sengaja mengeraskan kepalku. Salah satu dari mereka akhirnya memukul mukaku, ah. Asinnya darah. Kau akan mati. Namun, kau akan mati pelan-pelan. Demikian kata si Mata Merah kepadaku dengan semburan bau rokoknya.

Mereka semua pun tertawa dengan lantang. Terdengar suara kepak sayap serombongan burung yang seolah-olah ingin membesarkan hatiku.

Akhirnya, si Mata Merah mendorongku agar aku melangkah maju. Mereka kemudain menyerimpung kedua kakiku dengan besi hingga akhirnya mustahil untukku bisa bergerak lagi.

Salah satu dari mereka kemudian menendang betisku hingga aku tersungkur.

Sekali lagi, si si Mata Merah itu memegang bahuku dari belakang dan memaksaku agar aku berlutut. Tuhan, apakah kita sekarang semakin dekat?  Kini, kau terasa semakin ingin memelukku.

Dulu, aku selalu mengira bahwa pada saat kematian tiba, akan ada gunung meletus atau gempa dan daun­daun gugur. Tak lupa aku bayangkan dunia mengalami separuh kiamat.

Karena itu, aku mengira ketika aku tenggelam maka kematianku akan menghasilkan guncangan yang begitu besar. Ternyata, semua itu hanya ilusi semata.

Kematianku tak terasa lebih seperti saat seorang penyair yang menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya. Atau, seperti listrik yang mendadak mati. Hening, begitu sunyi. Mungkin ini hanya imajinasi, namun aku mendengar cericit burung.

Begitu saja, berkat doa para burung, aku pun sudah sampai di dasar laut. Dan begitu saja, ketika aku merasa dirubung oleh ratusan ikan, lantas kepalaku terasa berdebam keras di atas salah satu koral otak.

Halaman:

Advertisement