Contoh Prolog Novel Kehidupan, Sejarah Pribadi, dan Cinta yang Menarik
Prolog sering digunakan sebagai eksposisi. Prolog menjelaskan cerita dengan memberi pembaca beberapa informasi latar belakang, atau tentang apa yang terjadi dalam cerita. Simak beberapa contohnya di sini.
Aku pun di tendang agar berjalan dengan cepat. Jalanan semakin menanjak dan aku mendengar debur ombak yang kencang. Aku juga bisa mencium aroma asin laut di antara angin yang mengacak-acak rambut.
Sekali lagi, suara ombak yang deras itu pecah tidak seirama. Di manakah aku? Apakah kami masih berada di wilayah Jakarta?
Karena aku tampak sering berhenti untuk mengira-ngira keberadaanku di mana, sebuh tangan besar pun mendorong punggungku agar aku berjalan lebih cepat.
Setelah berjalan cukup jauh, kini salah satu dari mereka berteriak agar aku menaiki sebuah speedboat.
Sepanjang Lautan
Aroma asin laut kembali menusuk cuping hidungku. Terdengar seseorang menyalakan motor speedboat itu dan seorang yang lain menendang punggungku agar aku berlutut.
Begitu saja speedboat itu melaju. Walau wajahku masih tertutup dengan karung, aku masih bisa merasakan cipratan air laut.
Aku bisa merasa angin laut menyelip di antara poripori kain karung yang menyelimuti mukaku yang penuh darah dan luka.
Rasa perih luka bibir dan tulang hidungku yang patah semakin menjadi-jadi karena asin air laut, namun angin yang menerpa itu terasa seperti sebuah pembebasan.
Debar jantung semakin menggebu-gebu dada seolah ia siap mencelat keluar, tetapi aku mencoba menghadapi suara permukaan laut yang dibelah speedboat itu.
Tak terlalu lama, speedboat terasa melambat. Mungkin kamu sudah sampai di tempat tujuan, entah itu pulau apa, aku pun takt ahu.
Aku dipaksa turun dari speedboat. Agak sulit rasanya untuk berjalan di tepi tebing dengan kaki telanjang, sementara aku bisa mendengar suara ombak dari bawah sana.
Sepasang kakiku hanya berfungsi setengah karena selalu menjadi sasaran ditindas kaki meja atau ditendang hingga retak.
Terdengar si Perokok berteriak dengan suara parau agar aku berjalan dengan langkah yang lebih cepat.
Perjalanan pun semakin menanjak. Rasanya, kami sedang mendaki sebuah bukit karang yang tak terlalu tinggi. Suara ombak yang datang dan pergi masih bisa aku dengar.
Hempasan ombak pertama. Hempasan ombak kedua. Terdengar pula langkah sepatu lars yang menginjak kerikil. Satu tangan besar membuka bebat kain penutup mataku dengan kasar.
